Bukan Soal Politik, Habil Marati Kembali Berbagi Beras dan Santuni Kaum Duafa di Kendari

Uncategorized27 Dilihat

KENDARI, KABARTERKINISULTRA.COM – Politikus dan tokoh Sulawesi Tenggara Habil Marati kembali salurkan bantuan beras sebanyak 2,5 ton dan santunan terhadap pesantren yang ada di Kendari. Alasan lesunya ekonomi, faktor alam yang menyebabkan gagal panen dan rasa kemanusiaan yang menjadi landasan menyalurkan bantuan dan bulan perkara politik.

Seperti di Muna dan Muna Barat (Mubar), bantuan tersebut menyasar masyarakat yang membutuhkan, khususnya janda dan kaum duafa, sekaligus menyentuh aktivitas sosial di Pondok Pesantren Wushulul Fawwaz.

Penyaluran di Kendari merupakan kelanjutan dari bantuan yang sebelumnya disalurkan Habil Marati di Kabupaten Muna dan Muna Barat. Dengan tambahan 2,5 ton beras di Kota Kendari, total bantuan pangan yang telah disalurkan di wilayah Sulawesi Tenggara disebut mencapai 16,5 ton, terdiri atas 15 ton untuk Muna dan Muna Barat serta 2,5 ton untuk Kota Kendari.

“Sama seperti di Muna dan Mubar sebelumnya. Bantuan tersebut dibagikan dengan jumlah 5 kilogram beras untuk setiap penerima, disertai sejumlah santunan,” turur Onggi yang dipercayai oleh Habil Marati untuk menyalurkan bantuan tersebut.

Penyaluran di Kota Kendari menyentuh sejumlah wilayah, antara lain Punggolaka, Tobuha, Gunungjati, Wuawua, Tipulu, Baruga, dan Andonohu. “Ini aksi sudah kesekian setalah sebelumnya di Punggolaka, proses penyaluran dilakukan dengan melibatkan Camat Puuwatu dan sejumlah ketua RT,” ungkapnya.

Kehadiran unsur pemerintah di tingkat wilayah tersebut bukan sekadar seremoni. Mereka turut menyaksikan proses pembagian sekaligus membantu memastikan bantuan diterima oleh warga yang memang membutuhkan.

Di tengah setiap kegiatan sosial yang melibatkan figur publik, pertanyaan mengenai motif politik kerap muncul. Namun, Onggi menegaskan bantuan tersebut tidak berkaitan dengan kepentingan politik.

“Saya pastikan ini bukan soal politik. Pesta politik masih terlalu jauh. Dan saya juga pastikan ini juga merupakan gerakan hati pak Habil yang peduli terhadap saudaranya di Sultra,” katanya.

Penegasan itu menjadi penting karena bantuan sosial sering kali berada di wilayah yang sensitif, antara kepedulian yang benar-benar lahir dari kebutuhan kemanusiaan dan persepsi publik mengenai kepentingan politik.

Mantan Direktur Kendari Pos ini juga menjelaskan bahwa, dalam konteks bantuan Habil Marati, pihaknya menempatkan persoalan ekonomi dan kondisi masyarakat sebagai alasan utama penyaluran bantuan. Beras dipilih karena merupakan kebutuhan dasar yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Bagi keluarga yang tengah menghadapi tekanan ekonomi, lima kilogram beras mungkin bukan angka besar. Namun, dalam situasi ketika kebutuhan rumah tangga harus dihitung secara cermat, bantuan tersebut dapat berarti sejumlah hari kebutuhan pangan yang sedikit lebih ringan,” paparnya.

Penyaluran bantuan di Kendari memperluas cakupan gerakan sosial yang sebelumnya dilakukan di Muna dan Muna Barat. Jika di dua kabupaten tersebut bantuan menyasar masyarakat, janda miskin, masjid, dan pondok pesantren, kali ini perhatian diarahkan kepada masyarakat di sejumlah kawasan Kota Kendari serta Pondok Pesantren Wushulul Fawwaz.

Pola bantuan tetap dipertahankan. Beras disalurkan kepada penerima dengan jumlah yang sama, yakni lima kilogram per orang. Selain pangan, terdapat pula santunan yang diberikan kepada penerima.

“Bantuan ini murni gerakan hati pak Habil. Jadi bukan tidak mungkin akan menyadar seluruh masyarakat Sultra. Itu semua berdasarkan laporan, atau masukan yang diterima langsung oleh Pak Habil, yang dikonfirmasi langsung kepada orang kepercayaannya apakah layak untuk dibantu atau tidak,” ujarnya.

Ada satu hal yang menarik dari rangkaian penyaluran tersebut, bantuan justru datang ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan ekonomi yang konkret.

Harga kebutuhan hidup, daya beli, kondisi alam, dan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari merupakan persoalan yang tidak mengenal warna politik. Bagi masyarakat yang sedang kesulitan, beras tetaplah beras. Ia bukan slogan dan bukan janji kampanye.

Sikap tersebut sekaligus menempatkan kegiatan sosial pada ruang yang lebih sederhana, membantu mereka yang membutuhkan tanpa harus selalu membungkusnya dengan kepentingan yang lebih besar.

“Kegiatan ini besok akan dilanjutkan di daerah Puuwatu. Bersama pak lurah kita sudah mendata penyapu jalan dan tenaga kebersihan lain sebanyak 500 orang akan mendapatkan bantuan beras tersebut,” pungkasnya.

 

Editor: Anugerah

Komentar