Disebut Mandul Tangani Kasus Korupsi Jembatan Cirauci II, Kejati Sultra Didesak Tangkap Bupati Bombana

Kendari231 Dilihat

KENDARI, KABARTERKINISULTRA.COM – Aroma busuk ketidakadilan menyerbak di depan gerbang Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara, Senin (11/5/2026).

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Koalisi Mahasiswa Sultra meluapkan amarah mereka dengan cara yang ekstrem, melepas tikus hidup dan menyembelih ayam di depan Kantor Korps Adhyaksa tersebut.

Aksi teatrikal ini bukan sekadar gimik, melainkan tamparan keras bagi Kejati Sultra yang dituding “mandul” dalam menyeret Bupati Bombana, Burhanuddin, ke jeruji besi terkait skandal korupsi Jembatan Cirauci II.

Simbolisme Perlawanan: Tikus Lepas, Keadilan Terkapar

Pelepasan tikus ke arah trotoar kantor Kejati menjadi satir tajam bahwa “hama negara” masih dibiarkan berkeliaran bebas tanpa borgol. Sementara itu, darah ayam yang mengucur di aspal menjadi simbol tragis “penumbalan” hukum—di mana rakyat kecil dan bawahan mudah dipenjara, namun pejabat tinggi seolah punya kekebalan sakti.

BACA JUGA :  Demo di Polda Sultra, Eks Sekwan Konut Diminta Dijadikan Tersangka

“Hari ini kita saksikan hukum di Sultra sedang mati suri! Bagaimana logikanya dua rekanan sudah selesai dipenjara, tapi aktor intelektualnya bahkan belum pernah mencicipi dinginnya sel tahanan?” teriak Jenderal Lapangan, Malik Botom, dalam orasinya yang berapi-api.

Bupati Bombana Jadi “Anak Emas” Hukum?

Massa aksi membongkar data telanjang. Burhanuddin, yang saat proyek berlangsung menjabat Kepala Dinas Bina Marga dan SDA Sultra sekaligus KPA dan PPK, disebut secara gamblang dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nomor 04/RP-9/P.3.13/Ft.1/022024.

Dalam konstruksi hukum tersebut, ia diduga terlibat bersama Torang Ukoras Sembiring dan Rahmat yang kini justru sudah menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman.

BACA JUGA :  Lagi, Kejati Didesak Tetapkan Tersangka Bupati Bombana Soal Kasus Korupsi Proyek Jembatan Cirauci II

Kejati Sultra “Bungkam” Seribu Bahasa

Suasana sempat mencekam saat massa mencoba merangsek masuk ke dalam kantor untuk menuntut jawaban langsung dari pimpinan Kejati. Namun, ironisnya, hingga aksi berakhir, tak satu pun pejabat Kejati Sultra yang berani menampakkan batang hidungnya atau memberikan klarifikasi resmi.

“Kami bawa data lengkap. Jangan sampai jabatan Bupati dijadikan tameng untuk kebal hukum. Jika Kejati tetap diam, jangan salahkan publik jika menganggap kantor ini sudah jadi ‘sarang’ perlindungan bagi para koruptor,” tegas Malik.

Hilangnya nyawa ayam di depan gerbang Kejati hari ini menjadi pengingat pahit: bahwa di mata mahasiswa, keadilan di Sulawesi Tenggara sedang disembelih demi kepentingan kekuasaan.

Editor: Anugerah

Komentar