KONSEL, KABARTERKINISULTRA.COM – Menjelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) memastikan ketersediaan sapi kurban dalam kondisi aman dan memadai. Bahkan, daerah ini disebut memiliki potensi surplus untuk menyuplai kebutuhan sapi kurban hingga ke seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Kepala Bidang Pembibitan dan Produksi DPKH Konsel, Jufri Alhuda, mengatakan kesiapan tersebut merupakan hasil dari kerja lapangan yang intensif, mulai dari pembinaan peternak hingga pengawasan kesehatan dan pertumbuhan ternak. Ia menyebut, sapi-sapi yang disiapkan tidak hanya cukup dari sisi jumlah, tetapi juga memenuhi standar bobot yang dipersyaratkan, khususnya untuk kategori sapi kurban Presiden.
“Berkat kerja keras teman-teman di lapangan serta arahan pimpinan, baik dari Bupati maupun Kepala Dinas, kita saat ini berada dalam kondisi surplus sapi kurban. Terutama untuk sapi dengan bobot besar yang menjadi kriteria utama,” kata Jufri saat ditemui di Konawe Selatan. Jumat, 10/4/2026.
Ia menjelaskan, bobot sapi yang masuk dalam kategori tersebut berkisar antara 800 kilogram hingga 1,1 ton. Menurutnya, bobot ini menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan sapi kurban Presiden, selain aspek kesehatan dan kelayakan lainnya.
Sejauh ini, DPKH Konsel telah melakukan pengecekan dan penimbangan di sejumlah wilayah. Dari hasil pendataan sementara, tercatat sedikitnya 13 ekor sapi yang telah memenuhi kriteria sebagai calon sapi kurban Presiden tahun 2026. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan di tujuh kecamatan yang telah lebih dulu disurvei.
“Dari tujuh kecamatan yang sudah kita lakukan pengecekan, terdapat 13 ekor sapi yang memenuhi syarat. Ini tentu menjadi indikator awal bahwa potensi kita cukup besar,” ujar Jufri.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses pendataan belum sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa kecamatan yang belum dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. DPKH Konsel menargetkan dalam waktu dekat seluruh wilayah akan terjangkau untuk memastikan data yang lebih komprehensif.
“Ini baru sebagian wilayah. Masih ada kecamatan lain yang belum kita cek. Potensinya tentu masih bisa bertambah, karena kita tahu banyak peternak di Konsel yang memiliki sapi dengan kualitas baik,” katanya.
Menurut Jufri, keberhasilan ini tidak terlepas dari program pembinaan yang selama ini dijalankan DPKH, termasuk peningkatan kualitas pakan, pengawasan kesehatan hewan, serta program inseminasi buatan (IB) yang terus digencarkan. Program tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas ternak masyarakat.
Selain itu, keterlibatan aktif peternak juga menjadi faktor kunci. Banyak peternak yang kini mulai memahami pentingnya menjaga kualitas ternak, baik dari segi pakan, kebersihan kandang, hingga pemantauan kesehatan secara berkala.
“Kami melihat kesadaran peternak semakin meningkat. Mereka tidak hanya fokus pada jumlah ternak, tetapi juga kualitasnya. Ini yang membuat sapi-sapi di Konsel mampu bersaing, bahkan untuk kebutuhan skala provinsi,” ujar Jufri.
DPKH Konsel juga memastikan bahwa seluruh sapi yang akan disalurkan sebagai hewan kurban telah melalui proses pemeriksaan kesehatan yang ketat. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa hewan yang dikurbankan dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.
Pengawasan tersebut meliputi pemeriksaan fisik, pengecekan penyakit menular, hingga pemantauan kondisi umum ternak. Tim teknis DPKH diterjunkan langsung ke lapangan untuk memastikan setiap sapi memenuhi standar yang telah ditetapkan.
“Selain bobot, aspek kesehatan menjadi prioritas utama. Kita tidak ingin ada sapi yang tidak layak justru lolos. Karena ini menyangkut kepercayaan masyarakat,” kata Jufri.
Dengan kondisi stok yang dinilai mencukupi, DPKH Konsel optimistis mampu memenuhi kebutuhan sapi kurban, tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga untuk daerah lain di Sulawesi Tenggara. Distribusi sapi kurban pun direncanakan akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Kedepan, DPKH Konsel berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi ternak lokal. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah memperluas jangkauan pembinaan serta meningkatkan sinergi dengan peternak dan pemangku kepentingan lainnya.
“Target kita bukan hanya mencukupi kebutuhan, tetapi juga menjadi daerah penyuplai utama di Sulawesi Tenggara. Dengan potensi yang ada, kami yakin hal itu bisa dicapai,” ujar Jufri.
Bagi DPKH Konsel, kondisi tersebut bukan sekadar capaian, melainkan hasil dari proses panjang pembinaan dan kerja kolektif antara pemerintah dan peternak. Dengan tren positif ini, Konawe Selatan diproyeksikan akan terus menjadi salah satu sentra produksi sapi unggulan di Sulawesi Tenggara.
Sementara itu Seorang peternak di Kecamatan Konda, Rahman (45), mengaku bersyukur atas perkembangan ternak sapi miliknya yang kini telah mencapai bobot sekitar 800 kilogram. Bagi Rahman, capaian tersebut bukanlah hal yang instan, melainkan hasil dari ketekunan dalam merawat ternak serta dukungan dari program pembinaan yang dijalankan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) setempat.
Rahman menuturkan, sejak beberapa tahun terakhir dirinya mulai serius menekuni usaha peternakan sapi. Ia tidak hanya mengandalkan pola pemeliharaan tradisional, tetapi juga mulai menerapkan metode yang dianjurkan oleh petugas lapangan, seperti pengaturan pakan yang seimbang dan menjaga kebersihan kandang.
“Alhamdulillah, sapi saya sekarang sudah mencapai sekitar 800 kilogram. Ini berkat bimbingan dari petugas DPKH yang rutin turun ke lapangan memberikan arahan,” ujarnya saat ditemui di kandangnya.

Menurut dia, salah satu faktor penting dalam meningkatkan bobot sapi adalah konsistensi dalam pemberian pakan. Ia mengombinasikan hijauan segar dengan pakan tambahan yang memiliki kandungan nutrisi cukup, sehingga pertumbuhan sapi dapat lebih optimal. Selain itu, ia juga rutin memantau kesehatan ternaknya agar terhindar dari penyakit.
Rahman juga mengapresiasi program pemerintah daerah, khususnya melalui DPKH, yang dinilainya sangat membantu para peternak. Mulai dari penyuluhan, pemeriksaan kesehatan hewan, hingga pendampingan teknis, semuanya memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas ternak.
“Kalau dulu kita pelihara seadanya, sekarang sudah lebih terarah. Ada petugas yang datang mengecek, memberi saran, bahkan membantu kalau ada masalah di lapangan,” katanya.
Ia berharap, dengan bobot sapi yang telah mencapai 800 kilogram, ternaknya dapat masuk dalam kategori sapi kurban berkualitas, bahkan berpeluang menjadi bagian dari kebutuhan sapi kurban skala besar. Menurutnya, hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi peternak untuk terus meningkatkan kualitas ternak mereka.
Kedepan, Rahman berkomitmen untuk terus mengembangkan usahanya. Ia berencana menambah jumlah ternak serta meningkatkan kualitas pemeliharaan agar dapat menghasilkan sapi dengan bobot yang lebih tinggi lagi.
“Harapan kami, program seperti ini terus berlanjut. Karena sangat membantu peternak kecil seperti kami untuk bisa berkembang,” Pungkasnya.
Editor: Anugerah







Komentar