KONSEL, KABARTERKINISULTRA.COM – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) terus mengintensifkan monitoring dan evaluasi (monev) di wilayah sentra peternakan. Kali ini, kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bidang (Kabid) Pembibitan dan Produksi, Jufri Alhuda, yang turun ke Kecamatan Kolono guna memastikan program peternakan berjalan optimal di tingkat petani peternak,” Rabu (08/04/2026)
Kehadiran Jufri Alhuda di lapangan menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan sekaligus pembinaan terhadap peternak. Tidak hanya memantau, tim juga melakukan dialog langsung untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi peternak.
Dalam kegiatan tersebut, Jufri Alhuda menyampaikan bahwa monev menjadi instrumen penting dalam mengukur efektivitas program yang telah dijalankan. Menurutnya, evaluasi langsung di lapangan memberikan gambaran nyata terkait kondisi ternak, manajemen pemeliharaan, hingga pemanfaatan bantuan dari pemerintah.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas ternak. Karena itu, kami turun langsung melihat kondisi di lapangan,” ujarnya.

lebih lanjut Jufri, menjelaskan, peningkatan produktivitas ternak tidak hanya bergantung pada bantuan fisik seperti bibit atau sarana prasarana, tetapi juga pada peningkatan kapasitas peternak. Oleh karena itu, bidang Pembibitan dan Produksi memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan teknis.
“Kami terus mendorong peternak agar menerapkan pola pemeliharaan yang baik, mulai dari manajemen pakan, kebersihan kandang, hingga pengendalian penyakit. Ini penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas ternak,” katanya.
Dalam monev tersebut, tim juga meninjau kondisi kesehatan ternak serta mengevaluasi pelaksanaan program inseminasi buatan (IB) yang telah berjalan di Kecamatan Kolono. Hasilnya, sebagian besar ternak dalam kondisi sehat, meskipun masih ditemukan beberapa kendala teknis di lapangan.
Petugas desiminator yang mendampingi kegiatan itu menjelaskan bahwa pendampingan terhadap peternak terus dilakukan secara rutin. Ia menyebutkan bahwa edukasi menjadi kunci dalam meningkatkan keberhasilan program peternakan.
“Kami tidak hanya melakukan pelayanan IB, tetapi juga memberikan pemahaman kepada peternak tentang pentingnya perawatan ternak yang baik. Dengan begitu, hasilnya bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Lanjut, Jufri Alhuda menegaskan bahwa Kecamatan Kolono memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan. Dengan dukungan sumber daya yang ada, wilayah ini dinilai mampu menjadi salah satu pusat produksi ternak di Konawe Selatan.
Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan, termasuk melalui kegiatan monev yang lebih intensif. Hasil dari evaluasi ini nantinya akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program yang lebih tepat sasaran.
“Kami akan terus hadir di tengah peternak. Harapannya, produktivitas ternak di Kolono dapat meningkat dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Langkah yang dilakukan DPKH Konsel ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat sektor peternakan sebagai salah satu penopang ekonomi lokal. Dengan sinergi antara pemerintah dan peternak, diharapkan berbagai program yang dijalankan dapat memberikan hasil yang optimal dan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, petugas desiminator Kecamatan Kolono, Haris Patoni, turut memberikan gambaran situasi lapangan. Ia menjadi salah satu ujung tombak dalam pelaksanaan program, khususnya pelayanan IB dan pendampingan langsung kepada peternak.
Menurut Haris, keberhasilan program peternakan tidak lepas dari intensitas pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia mengatakan, petugas lapangan tidak hanya hadir saat ada kegiatan tertentu, tetapi juga rutin melakukan kunjungan untuk memastikan kondisi ternak tetap terjaga.
“Kami di lapangan terus melakukan pendampingan secara rutin. Tidak hanya pelayanan IB, tapi juga memastikan peternak memahami cara merawat ternak dengan baik,” ujar Haris.
Ia menjelaskan, sebagian besar peternak di Kecamatan Kolono mulai menunjukkan peningkatan pemahaman dalam manajemen pemeliharaan. Hal ini terlihat dari kondisi kandang yang lebih tertata serta pola pemberian pakan yang semakin teratur.
Meski demikian, Haris tidak menampik masih adanya sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan pengetahuan teknis di sebagian peternak serta faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan ternak.
“Kendala di lapangan tentu ada, seperti cuaca, ketersediaan pakan, hingga pemahaman peternak yang masih beragam. Tapi kami terus berupaya memberikan edukasi agar mereka bisa mengatasi persoalan tersebut secara mandiri,” katanya.
Ia menambahkan, dukungan dari DPKH Konsel melalui kegiatan monev menjadi motivasi tersendiri bagi petugas lapangan. Dengan adanya kunjungan langsung dari pimpinan, koordinasi dan evaluasi dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Kami merasa terbantu dengan adanya monev ini. Selain sebagai evaluasi, ini juga menjadi ruang koordinasi untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Haris menilai Kecamatan Kolono memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor peternakan. Dengan dukungan sumber daya alam yang memadai, wilayah ini dinilai mampu menjadi salah satu sentra produksi ternak di Konawe Selatan.
Namun, ia menekankan bahwa potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas peternak serta keberlanjutan program pendampingan.
“Kalau pendampingan terus berjalan dan peternak konsisten menerapkan ilmu yang diberikan, saya optimistis produktivitas ternak di Kolono akan terus meningkat,” ucapnya.
Sementara itu salah satu petani peternak di Kecamatan Kolono, Muh Ikbal, peternak sapi lokal yang mengaku terbantu dengan adanya pelayanan IB serta pendampingan rutin dari petugas lapangan.
Ikbal ditemui di kandangnya di salah satu desa di Kecamatan Kolono. Di sela aktivitas memberi pakan ternaknya, ia bercerita bagaimana program pemerintah tersebut perlahan mengubah cara pandangnya dalam beternak.
Menurut dia, sebelum adanya program IB dan pendampingan intensif dari DPKH, sebagian besar peternak di wilayahnya masih menggunakan cara tradisional dalam mengelola ternak. Pengetahuan tentang perawatan, reproduksi, hingga pencegahan penyakit masih terbatas.
“Dulu kami beternak seadanya saja. Ternak dilepas, pakan tidak terlalu diperhatikan, apalagi soal perkembangbiakan. Jadi hasilnya juga tidak maksimal,” ujar Ikbal.
Perubahan mulai dirasakan ketika petugas desiminator aktif turun ke lapangan memberikan edukasi sekaligus pelayanan IB. Ikbal mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama terkait manajemen pemeliharaan dan pentingnya perbaikan kualitas genetik ternak.
“Sejak ada program IB, kami mulai paham bagaimana meningkatkan kualitas ternak. Tidak hanya jumlahnya bertambah, tapi juga lebih bagus dari segi pertumbuhan,” katanya.
Ia menilai, kehadiran petugas lapangan menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Selain memberikan layanan teknis, petugas juga rutin melakukan kontrol dan pemantauan kondisi ternak milik peternak.
Menurut Ikbal, kontrol yang dilakukan DPKH Konsel membuat peternak merasa lebih diperhatikan. Setiap kendala yang dihadapi di lapangan bisa langsung disampaikan dan mendapatkan solusi.
“Kalau ada masalah, kami bisa langsung tanya. Petugas juga sering datang lihat kondisi ternak, jadi kami tidak merasa jalan sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendampingan tersebut tidak hanya sebatas pelayanan IB, tetapi juga mencakup edukasi tentang pemberian pakan, kebersihan kandang, hingga penanganan awal penyakit.
Dengan adanya pembinaan tersebut, Ikbal mulai menerapkan pola pemeliharaan yang lebih baik. Ia kini lebih memperhatikan kualitas pakan serta menjaga kebersihan kandang untuk menghindari risiko penyakit.
“Hasilnya sudah mulai terlihat. Ternak lebih sehat, pertumbuhannya juga lebih cepat dibanding sebelumnya,” kata dia.
Meski demikian, Ikbal mengakui masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi peternak, terutama terkait ketersediaan pakan pada musim tertentu. Namun, ia menilai kendala tersebut perlahan bisa diatasi dengan bimbingan dari petugas.
“Memang ada kendala, seperti pakan kalau musim kemarau. Tapi kami sudah diajarkan cara mengatasinya, misalnya menyimpan pakan atau mencari alternatif lain,” ujarnya.
Ikbal juga mengapresiasi kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan DPKH hingga ke tingkat kecamatan. Menurut dia, kehadiran langsung pejabat dinas di lapangan menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan sektor peternakan.
“Kami merasa diperhatikan. Bukan hanya petugas lapangan, tapi juga pimpinan dinas turun langsung melihat kondisi kami,” katanya.
Ia berharap program seperti IB dan pendampingan peternak dapat terus berlanjut dan ditingkatkan. Menurutnya, keberlanjutan program menjadi kunci agar hasil yang telah dicapai dapat terus berkembang.
“Harapan kami tentu program ini terus ada. Karena manfaatnya sudah kami rasakan langsung,” ujar Ikbal.
Lebih jauh, ia optimistis Kecamatan Kolono memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan. Dengan dukungan pemerintah dan keseriusan peternak, wilayah tersebut dinilai mampu menjadi salah satu sentra ternak di Konawe Selatan.
“Kalau kami terus dibina seperti ini, saya yakin Kolono bisa jadi daerah penghasil ternak yang lebih maju,” ucapnya.
Program IB dan pendampingan yang dilakukan DPKH Konsel menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan peternak. Bagi Ikbal, perubahan yang dirasakan saat ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan peternak dapat menghasilkan dampak nyata di lapangan.
“Sekarang kami lebih semangat beternak. Karena ada yang membimbing dan hasilnya juga mulai terlihat,” tandasnya.
Editor: Anugerah






Komentar